Miss Dj [Part.1]

miss DJMiss Dj part 1

Prolog | Part 1 | …

Author : JSH

Art By : Widhi Thania

Title : Miss Dj [ Part 1 ]

Main Cart :

  • Im Yong Woon a.k.a Kang in[ SJ ]
  • Song Hye Sun[ O’c ]

Support Cart :

  • Kim Min Ah[ O,c ]
  • Lee Hyukjae a.k.a Eunhyuk[ SJ ]
  • Lee Donghae a.k.a Donghae[ SJ ]

Rating : PG- 13

Genre : Romance, AU

Type  : Chapter

Length : 2,614 Words

Note Author:

Perhatian2 author mau memberitakan bahwa ff yang saya buat ini terinfirasi dari novel Indonesia tahun 90-an yang berjudul NONA DJ, Author bukan berarti men jiplak tapi autor terinfirasi. makannya ff miss dj saya ini mirip dengan novel ciptaan Zara Zettira ZR yang berjudul NONA DJ.

tapi saya ubah dengan aksen modern dan berbau korea, saya membuat ff ini karna saya suka dengan ceritanya dan timbul fikiran untuk membutnya dalam bentuk ff.

Warning :

–      Typo bersebaran

–      Penulisan yang salah

–      Nggak yambug

–      Nggak ada Feel, DLL

[Happy Reading^^]

“What Is This True…”

*Heysun*

        

Author POV on

“Kamar mu…”

            Pintu besar berwarna coklat itu terbuka. Terpampang ruangan seluas 7   8 meter berlapis karpet tebal warna jingga. Sebuah tempat tidur berukir lengkap dengan kelambunya tersedia di tengah ruangan, di antara 2 jendela besar dan satu pintu kaca menuju teras.

“Kamar ku ?” desis Hyesun terpesona.

Ia berlari ke tengah. Duduk di kelembutan hamparan karpet tebal. Tidur di tumpukan bantal berlapis satin kuning yang memenuhi karpet. Menyalahkan tv dengan remote.

“Wahh…! drama tv ku sudah mulai, aku sudah tertinggal sampai di mana ya ceritanya?” ujar Hyesun.

“Tenang saja. Drama tv anda yang tertinggal bisa anda tonton kembali di tempat penyimpanan, karna tv ini sudah diset untuk menyimpan siaran tv yang anda suka” pelayan menjelaskan.

“Benarkah…! keren sekali. Kalau begini aku tak usah repot2 mencari di internet lagi di sini sudah ada” ucap Hyesun gembira.

Hyesun bangkit. Bosan dengan drama tv yang sedari tadi ditunggu2 belum mulai karna rentetan ikaln yang lewat, ia mulai memperhatikan stereo set komplet yang terletak di pojok dekan meja marmer. Radio, tape, disc. Lalu di sebelahnya ada kulkas kecil berisi beberapa soft drink dan wane.

“Wane…!” Hyesun meraihnya  girang, lalu meletakkannya kembali saat di sadarinya si pelayan masih memperhatikannya di ambang pintu.

“Mmh… kamar mandinya di sebelah situ” pelanyan mendehem menunjuk ke sebelah kiri ruangan.

“Ya. Terima kasih”

“Dan pintu besar itu menuju ke teras. Di bawahnya taman dan kolam renang. Apa Nona masih memerlukan saya lagi?”

Hyesun menggeleng.

“Tidak. Terima kasih…”

“Kalau begitu saya…”

“Oh, sembetar,” ia meralat, “Jam berapa saya akan bertemu dengan Halmeoni saya ?”

“Mungkin besok. Halmeoni Anda sedang dalam perjalannan pulang dari Paris.”

Hyesun melongo. Paris? Tempat itu cuma ada dalam angan-angan. Untuk pergi ke Jeju pun ia mesti menabung hasil kerjanya di Diskotek Blitz. Paris? Dengan penghasilanyan sebagai DJ, barang kali ia mesti menghabiskan separuh hidupnyan di Blitz. Ia tersenyum. Tapi kini, bukan tidak mungkin minggu depan kakinya sudah menjejak di kota mode itu.

“Ada lagi?”

Hyesun tersentak. Pelanyan masih di ambang pintu. Hyesun menggeleng.

Pelayan membungkuk lalu keluar. Membiarkan Hyesun menikmati hari pertamanya yang berbalur kekaguman di kamarnya yang baru. Hyesun teringat kamar apartemen kecinnya. Ruangan 3  4 meter yang penuh sesak. Panas bukan main di siang hari dan perlu tiga ember untuk menahan air jika musih hujan datang. Dua bulan kehidupan itu dijalaninya, dengann kesenduan anak yang baru ditinggal meninggal orangtuanya.

Tapi itu bukan masalah. Selama Eomma dan Appa nya masih ada, Hyesun toh telah terbiasa dengan iklim kehidupan yang ‘keras’. Tak ada kata ‘menabung’, yang ada adalah meminjam dan melunasi. Tak ada impian, tak ada harapan. Yang ada adalah memenuhi kebutuhan hari ini, bekerja untuk kebutuhan esok hari. Beruntung Eomma – Appa cuma punya satu anak.

Hyesun menatap sekeliling. Tak ada satu pun foto keluarganya terpampang di situ. Pun tidak di ruang tamu atau ruang makan rumah Halmeoninya yang mewah bagai istana ini. Aneh Halmeoni memang tidak hendak mengenang Eomma – Appanya lantara pernikahan mereka dulu tidak di setujui? Lantas kenapa aku di angakut kemari? Sekedar penerus keturunan?

Hyesun tak peduli, dinyalahkannya tape dan irama Fantastic Baby dari Big Bang pun mengalun. Lagu Favoritnya yang selalu muncul di Blitz tiap kali ia bertugas sebagai DJ.

Ada dua telepon dikamarnya. Satu berwarna kunimg dan satu abu-abu. satu telepon rumah dan satu telepon genggam. Satu tergeletak di atas meja marmer dan satunya terpatri pada dinding. Sedang apa Minah, Eunhyuk, dan Donghae detik ini? Mereka tadi menitihkan air mata mengatar kepergianku. satu waitress dan dua DJ Blitz itu memang sahabat Hyesun.

Hyesun mengakat telepon abu-abu dan memijit nomor telepon Blitz. 22… baru dua angka sudah terdengar sahutan.

“Ya… bisa saya bantu?”

Yang jelas bukan suara Minah, Eunhyuk atau Donghae. Hyesun terheran. Salah sambung?

“Siapa, nih…?”

“Dapur. Ada yang bisa saya bantu, Non ?”

“Dapur ?”

Hyesun meletakan gagang telepon segera. Lalu mencobanya sekali lagi, memijit angka 22, suara yang sama kembali terdengar

“Dapur…”

Hyesun tersenyum sendiri dengan kedunguanya. Ini pasti intercom. Sebelumnya di Blitz pun ada intercom. Kenapa aku bisa setolol ini? Edan. Ia merebakkan diri di atas ranjang empuk dengan tiga lapis seprei dan satu selimut tebal. Katanya Seoul panas, tapi di rumah ini udaranya begitu sejuk. Mata Hyesun mengeling ke langit-langit, ada dua kotak besar air conditioner di sana. Pantas.

Hyesun membongkar tasnya. Mengeluarkan dua jeans miliknya, beberapa lembar pakaina dalam, dan selebihnya blus, T-shirt, dan tiga gaun resmi. Dibukanya lemari yang menyatu dengan dinding kamar. “Di mana aku akan meletakan pakaian – pakian ku ini?” gumam Hyesun bingung, Lemari itu telah separuh penuh terisi. Bukan miliknya. Ada dua  belas pasang sepatu aneka warna. rata-rata bertumit tiga senti.

Hyesun memindahakan sebagian sepatu warna-warni yang ada di lemari , menyisakan sedikit tempat untuk dua pasang sepatunya. Satu sepatu coklat tanpa hak dan satu sepatu kets putih. Dan pakaian-pakaiannya di biarkannya tetap dalam keadaan terlipa, diletakannya sejajar dengan sepatu-sepayu itu, semantara gaun-gaun dalam lemari itu rapi tertata dalam cover plastic masing-masing.

Lagu Fantastic Baby telah lama selesai mengalun. Hyesun tak perduli. TV besar yang sekarang sedang menyuarakaan tembang All My Love Is For You-nya Girl’s Generation. Hyesun tertawa sendiri mengingat kebodohan-kebodohan yang baru saja dilakukannya di rumah besar ini. Sebetulnya ia sudah akrap dengan perangkat-perangkat canggih itu. Tape, disc, telepon, intercom. Cuma bedanya, kalau dulu ia cuma menyaksika semua di film atau di Diskotek Blitz, sekarang ia memilikinya sendiri. Di kamarnya sendiri. Sukar sekali untuk di percanya. Dan ia tiba-tiba menjadi dungu, bagai gadis dusun yang baru sekali masuk kota besar.

Author POV off

Hyesun POV on

Jam besar di dekat pintu masuk berdentang tiga kali. Cepat juga. Ketika samapai tadi baru pukul sebelas. Mengagumi rumah besar ini menghabiskan empat jam dan aku belum lagi tuntas. Aku merebahkan diri di atas ranjang besar. Menarik tali kelambu dan membiarkan diri ku terkurung dalam kemewahaan yang sejuk. Dengung AC yang lembut membuatku mengantuk. ku tarik selimut tebal itu dan aku puntertidur. Dengan kakaguman yang belum habis.

…|….|…

            “Makan malam sudad siap, Non…”

Aku menggeliat. Membuka mataku seketika. Tubuhku terasa segar. Amat segar. Samar kulihat pelayan wanita berrambut setengah putih yang tadi mengajak ku berkeliling.

“Ya…, aku akan segera turun…”

Setelah mendenggar jawabanku pelayan itu bersiap untuk pergi meninggalkan kamar ku. Eh…, tunggu dulu ada yang mau ku tanyakan .

“Eh…, tunggu dulu aku mautanya satu lagi…..!”

“Ya ada yang bisa saya bantu?”

“Saya mau tanya, jam berapa sekarang ya?”

“Oh…, jam delapan lewat. Ada yang mau di tanyakan lagi?”

“Ah…, tidak ada. Lima belas menit lagi saya akan turun”

Pelayan itu pun pergi meninggalkan kamar ku. Aku menghela nafas, aku masih mau berlama2 di ranjang hagat ku ini. Tapi aku harus segera ke bawah dan makan malam. Aku pun menuju ke pojok ruangan ini, dimana kamar mandi ku berada. Setelah membersihkan badan, aku pun segera ke bawah untuk makan malam. Aku memilih T-Shirt hitam bergambar burung hantu untuk malam ini. Aku melangkah menuju ke ruang makan tapi di saat anak tangga terakhir aku bimbang sesaat. Kekiri atau kekana kah arah ruang makan ? Sayup terdengar gesekan biola dan dentingan piano dari sebuah ruangan yang agak terang. Aku pun menuruti naluriku, aku melangkah ke sana.

Seorang namja berkemeja putih asik di belakang grand piano hitam berkilap. Pelan aku menghampiri namja itu, namja itu menghentikan permainannya, memberi kode pada pemain biola untuk menghentikan permainan biolanya juga, pemain biola itu mengerti dan langsung meniggalkan ruangan ini.

“Hai… aku Kangin, kau pasti Hyesun kan?”

Hey… darimana dia tahu nama ku? Aku pun menganggukan kepalaku yang mengartikan kalau tebakannya benar.

“Apakah kau sudah siap…?”

“Siap untuk apa ?”

“Ya…, untuk makan malam”

“Eemm…, ne aku sudah siap tapi apakah Halmeoni akan ikut makan malam dengan kita?” tanya ku pada namja yang ternyata bernama Kangin itu.

“Halmeoni…? Beliau masih berada di paris untuk pengobatan”

“Paris kenapa harus ke paris untuk berobat, apa obat dan dokter di Korea tidak mempan utuk penyakitnya ?”

Namja di depan ku ini malah tersenyum kecil sambil menyipitkan matanya, “Besok atau lusa mungkin Halmeoni akan pulang, dan mulai sekrang kau bisa memangilnya dengan sebutan Oma”. Aku bingung dengannya sebenarnya siapa dia, kenapa dia bisa tahu semua tentang Halmeoni.

“Siapa kau…?”

“Aku…,? aku Kangin” ucapnya sambil tersenyum seperti tadi.

“Hah…, kalau tentang itu aku sudah tahu. Tapi…”

“Hahaha…” namja ini aneh sekali kenapa dia tertawa padahal tak ada hal yang lucu. Namja itu malah membawa ku ke ruangan lain. Di ruangan ini ada lampu Kristal besar tergantung di atas langit – langitnya, persis membawahi meja makan panjang dengan duabelas kursi.

Aku heran kenapa ada duabelas kursi ? Katanya Halmeoni hanya memiliki Eomma dan aku adalah cucu satu – satunya aku jadi curiga. Tapi aku membuang jauh – jauh fikiranku.

“Selama kau tinggal di sini, aku yang akan mengajar mu”

“Mengajari ku…?, Mengajari seperti guru kah?”

“Ne tapi bukan hanya pelajaran sekolah. Etiket, tata berbusana, dan banyak hal lagi yang akan ku ajarkan untuk mu”

“Mow…, sebanyak itu kah?”

“Yap…” ucapnya sambil terseyum ringan dan matanya akan menyipit seperti garis, hahaha lucu sekali seyumnya aku suka. Hah… Hyesun apa yang kau pikirkan.

Kangin menarikan kursi untuk ku aku pun duduk setelah aku duduk dia pun duduk di kursi yang berada di depan ku. Prok…Prok…Prok *anggep aja bunyi tepuk tangan* setelah Kangin menepukan tangannya pelayan pun satupersatu keluar dengan membawa nanpan berisi makanan di dalamnya. Wah… banyak sekali makannannya, makanannya pun beraneka ragam dan pastinya enak – enak. Semua makanan di sini persis seperti makanan mahal yang ada di lestoran mahal, yang hanya ku perhatikan dari luar.

Hah… makanan apa ini, tak ada nasi dan kimchi sedikit pun di sini. Kalau tak ada nasi dan kimchi aku tak bisa makan, percuma makan makanan mahal dan mewah kalau tak ada nasi dan kimchi bisa mati kelaparan aku.

Kangin menghentikan makannya dan melihat ke arah ku bingung, “Kenapa kau diam, makanannya tidak enak ya?”

“Bukan…, makanannya enak kok”

“Dari mana kau tahu makanannya enak atau tidak, kau cicipi pun belum”

“Eemm…, aku… aku”

“Aku kenapa Hyesun…?, ayolah Hyesun coba sedikit makan yang sudah di buat oleh pembantu yang dipilih langsung oleh Oma mu”

“Bukan…bukanya aku tidak suka dengan makannya, tapi apa di sini tidak ada nasi atau kimchi sedikit pun, aku tidak bisa makan tanpa nasi dan kimchi”

Kangin kelihatannya ingin tertawa tapi ia menahan tawanya dan meneguk air putih yang ada di samping piringnya, lalu mengusap bibirnya lembut dengan kain yang ada di atas meja.

“Hem jadi begitu, kau tidak bisa makan tanpa nasi dan kimchi ya…?”

“Ne…” ucap ku malu sambil menundukan kepala ku.

Kangin menepukan tangannya sebanyak tiga kali sama seperti tadi dan pelayan pun datang.

“Bi… tolong buatkan nasi dan kimchi untuk Nona Hyesun” suruh Kangin dengan halus dan senyum yang manis pada Bibi ketua Koki dapur, “Ne Tuan…” Bibi pun menunduk dan segera melangkahkan kaki nya menuju dapur.

“Tunggu sebentar Hyesun, Bibi Kim sedang membuatkannya untuk mu, sambil menuggu kau makan saja roti itu supaya kau tidak sakit karna terlambat makan malam” Aa…, perhatian sekali dia. Aku pun mengambil roti yang ada di dekat lilin besar yang ada di meja makan ini. Selang beberapa menit Bibi Kim pun datang sambil membawa nasi dan kimchi yang ku pesan tadi, baunya sudah tercium sampai sini membuat perut tak tahan.

“Ini Tuan nasi dan kimchi nya, ada yang perlu saya bantu lagi?”

“Sudah ini saja… Gomawo Bibi Kim”

“Ne Tuan – Nona saya permisi dulu” pamit bibi kim sambil membungkukan badannya 90º lalu pergi meniggalkan kami berdua.

“Ayo cepat di makan, kau pasti sudah lapar kan?”

“Ne…, gomawo Kangin,” ucap ku sambil terseyum canggung, aku pun segera memakan nasi dan kimchi yang di bawakan Bibi Kim, “Hem…, rasa nya enak sekali,” ucapku sambil terseyum gembira Kangin pun ikut terseyum melihat ku makan dengan lahap, “Ini daging nya juga dimakan rasanya sangat enak…,”  ucap Kangin sambil memberikan ku daging yang kelihatannya sangat enak, “Ne…,” ucapku sambil memakan dangin yang tadi di berikan Kangin pada ku, em… benar yang di katakana Kangin daging ini sangat enak.

“Itu daging sapi asli Korea, bagai mana rasanya enak kan?”

Aku hanya mengangguk karna mulut ku penuh dengan makanan – makanan yang enak ini.

“Itu sebenarnya dimakan dengan kentang rebus yang sudah dihaluskan ini, tapi kau kelihatannya lebih suka dengan nasi” ucapnya sambil memperlihatkan seyumnya yang manis itu, namja ini suka sekali tersenyum ya.

Kami pun melanjutkan makan malam dengan canda dan tawa hah…, walaupun aku masih kecewa karna Halmeoni tidak ikut makan malam dengan kita, tapi aku tetap senag 🙂 .

Hyesun POV off

…|….|…

 

Author POV on

Hyesun dan Kangin pun makan malam dengan gembira, walau pun Hyesun sedih karna Halmeoni yang ia tunggu – tunggu tidak ada untuk makan malam bersamanya dan malam ini adalah malam pertama ia tidak menjadi DJ di Diskotek Blitz, tapi ia mencoba untuk tetap terseyum di tambah lagi Kangin yang selalu menghimburnya dengan beberapa lelucon yang membuat hati Hyesun senang.

“Em…, Hyesun kau beristirahat lah sekrang karna besok kita akan memulai pelajaran” ucap Kangin pada Hyesun, sebelum Kangin pergi menuju pondoknya.

“Kangin kau mau kemana…?” tanya Hyesun saat mlihat Kangin ingin meniggalkan ruang keluarga rumah Halmeoni Hyesun.

“Aku…aku ingin ke pondokku untuk beristirahat. Memangnya kenapa kau tidak rela ya aku pergi” ucap Kangin menggoda Hyesun.

“Bukan…bukan begitu. Kau tidak tinggal di sini?” tanya Hyesun dengan wajah serius.

“Tidak aku tidak tinggal di sini, aku tinggal di pondok dekat sini. Pondoknya ada di sebelah barat rumah Halmeoni mu ini, kau tinggal jalan 5 langkah ke arah barat rumah mu ini lalu kau bisa menemukan pondokku”

Merasa kalau Hyesun tidak akan bertanya lagi, Kangin pun membalikan badannya dan bersiap untuk melangkahkan kakinya pergi dari rumah Hyesun.

“Tunggu…, ada yang ingin ku tanyakan…!” Hyesun menghentikan Kangin dan bertanya sesuatu pada Kangin.

“Apakah ini benar rumah Halmeoni ku…,? Aku merasa kalau semua ini hanyalah ekting dan tentang Halmeoni yang masih hidup itu hanya rekayasa mu saja” tanya Hyesun dengan mimik wajah serius dan mata yang menatap mata Kangin tajam, berusaha menyelidik kebenaran dari mata Kangin.

Ditatapnya manik mata Hyesun tajam seolah tak mau kalah dengan tatapan tajam Hyesun, berharap dengan melakukan itu Hyesun bisa percaya pada dirinya, bahwa semua ini benar adanya.

“Tentu saja ini rumah Halmeoni mu, kalau tidak untuk apa kau di panggil kesini” jawab Kangin dengan mimik wajah serius dan tatapan mata meyakinkan, agar Hyesun yakin dengan jawaban nya.

“Adakah yang ingin kau tanyakan lagi…, Nona Song Hyesun? Tanya Kangin dengan penekanan di tiga kata terakhirnya.

Hyesun menggeleng dan menundukan kepalanya. Kangin pun melangkahkan kakinya menuju pintu keluar rumah Hyesun. “Tunggu…” lagi – lagi Hyesun menghentikan langkah kaki Kangin, Kangin tidak membalikan badannya hanya diam di tempatnya berdiri sekarang, menuggu apa yang akan di ucapkan Hyesun padanya.

“Jajalyo…”

TBC

Hah… akhirnya selesai juga part satunya, setelah satu tahun terlantarkan karna otak lagi mampet akhirnya berusaha membersihkan otak dengan hiatus yang sagat panjang, dan terciptalah part 1 yang sangat mengecewakan ini.

Atmin minta maaf kalau masih ada banyak typo yang bersebaran dan feelnya gak dapet, sumpah atmin binggung banget gimana supanya ff atmin ini ada feelnya. Diharapkan reader’s suka ya… Gomawo… Annyeong…^.^)/

©2013

Iklan

Komen dong t(T.Tt)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s